twitter


These days, it’s too easy for some of people to talk about friendship, whereas in the fact they didn’t really understand the true meaning of it. Say it, about the friendship word, you can see two words join together. These words are friend and ship. We can imagine our life as a sea, which is never calm eternally. Sometime sea becomes very calm, but sometime wind blows very hard, creating wave which is moving violently through the sea. As same as the sea which is never calm, our life also never flat. Happiness and sadness comes and goes one after another, fills our life with laugh and cry.

No one can walk through the sea of life in loneliness, even pirates who look so strong and brave have never crossed the sea alone. Jack Sparrow in the Pirates of the Caribbean movie has Hector Barbossa as his right hand assistant, although in the end Barbosa betrayed him. But besides of backbiting story between Barbosa to Jack, we know that Jack Sparrow understand he can’t cross the sea then find the treasure trove alone, because every person is not perfect and they need other people to cover their weakness. That is what should really happen in a friendship. Friendship is not only a name of relationship which we give to other people when we think him or her close enough with us. Friendship is about commitment for accepting our best friend’s weaknesses and uses our abilities and talents to cover their weaknesses.

Ditulis oleh : Deirdre Tenawin



Globalisasi menawarkan sejuta pembaharuan yang banyak memberikan sumbangsih kemajuan bagi kehidupan manusia. Efeknya secara jelas terasa di sekitar kehidupan kita. Berapa banyak diantara kita di jaman yang serba instan ini masih menggunakan fasilitas surat menyurat untuk menjangkau rekan maupun kerabat yang tinggal di luar kota ataupun di luar negeri ? Saya percaya bahwa sebagian besar dari kita telah meninggalkan alat komunikasi yang sempat fenomenal itu. Mungkin anda masih ingat masa – masa di tahun 90 an dimana istilah sahabat pena masih begitu familiar. Namun istilah sahabat pena itu kini hampir tak terdengar lagi, pelan – pelan ditenggelamkan oleh arus globalisasi. Fasilitas fasilitas moderen dengan simbol kecanggihannya bermunculan, surat – menyurat tidak lagi menjadi tren ketika fasilitas sms, email, friendster, facebook dan website pertemanan lainnya menggantikan fungsi penyampaian pesan dengan lebih cepat dan inovatif.

Dewasa ini dimana ruang dan waktu terasa tak seluas dulu, arus informasi begitu cepat dan mudah untuk diakses kapanpun dan dimanapun. Mata kita tidak lagi tertutup dari berbagai peristiwa yang terjadi di dunia Efek globalisasi ini jelas memberikan manfaat yang begitu besar bagi kemajuan suatu bangsa, terutama bagi kemajuan negara – negara berkembang seperti negara Indonesia. Bangsa yang berkembang boleh belajar banyak hal dari bangsa lain yang lebih dulu maju. Namun seperti pepatah yang mengatakan bahwa dimana ada gula disitu ada semut, maka efek positif tak pernah lepas dari efek negatif yang melekat bersamaan dengannya. Di satu sisi arus globalisasi membawa kemajuan pesat bagi bangsa ini namun di sisi lain turut menyapu nilai – nilai kehidupan bangsa yang berharga.

Sadar atau tidak sadar salah satu hal berharga yang ikut tersapu oleh arus globalisasi yang menghanyutkan bangsa ini adalah, kepolosan dan keluguan putra putri generasi penerus bangsa. Mereka adalah harta yang kini mulai tercemar oleh polusi globalisasi zaman. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka konsumsi tidak lagi menjadi perhatian dan prioritas. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah reaksi bangsa ini yang hanya tersenyum cuek ketika “harta” mereka dicekoki racun – racun kehidupan oleh kaum kapitalis yang berlomba – lomba menimbun harta. Lihatlah tayangan – tayangan televisi yang dikonsumsi putra – putri bangsa ini, sinetron – sinetron yang mengajarkan kekerasan dan kebencian. Maupun lagu – lagu sekuler yang hampir seluruhnya memperkenalkan mereka pada keputusasaan cinta. Sungguh memprihatinkan ketika nilai – nilai kebaikan disamarkan dan digantikan dengan nilai – nilai kekerasan maupun permusuhan. Masih ingatkah anda sekalian pada kasus kekerasan yang menimpa seorang anak berumur 9 tahun bernama Ahmad Firdaus ? Ahmad adalah seorang siswa SDN Babakan Surabaya VII yang pingsan setelah dipukul teman sebayanya yang mempraktekan apa yang disaksikannya lewat tayangan “ Smackdown “ ( sebuah tayangan luar yang menampilkan permainan kekerasan yang kemudian ditayangkan di salah satu stasiun tv lokal ). (Warta Kota 28 November 2006).

Pertanyaannya kemudian setelah semua yang terjadi, masihkan hati nurani kita memilih untuk tidur dan tak peduli dengan mereka yang diracuni ? Sumbangsih apa yang dapat kita berikan dalam memperbaiki dan mengembalikan kepolosan dan keluguan putra – putri bangsa yang telah ternodai ? Salah satu hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi perhatian terhadap tayangan – tayangan maupun musik – musik yang dikonsumsi anak, adik maupun anak – anak disekitar kita. Usahakan untuk memperkenalkan mereka pada tayangan – tayangan maupun musik – musik yang mendidik dan mengandung nilai kebaikan serta sesuai dengan porsi usianya. Perhatian dan kepedulian kita sekecil apapun sangat berharga dan berguna dalam menentukan nasib putra – putri bangsa ini di masa yang akan datang. Mari selamatkan “ anak – anak “ kita !



Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak – anak IPS kerap kali ditempatkan sebagai golongan ke dua di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Institusi sekolah beserta tenaga pengajarnya lebih senang membanggakan dan memberi perhatian lebih kepada anak – anak IPA, karena dianggap lebih mampu berprestasi. Diskriminasi terhadap anak – anak IPS juga terlihat dari keberadaan fasilitas sekolah yang mayoritas lebih ditujukan guna menunjang kegiatan pembelajaran bagi anak – anak IPA dibanding bagi anak – anak IPS. Cap sebagai anak – anak bodoh dan pembuat masalah seolah melekat pada diri anak – anak IPS walaupun berusaha dikaburkan. Padahal sesungguhnya anak – anak IPS punya hak ditempatkan setara dengan anak – anak IPA karena baik anak – anak IPA maupun anak – anak IPS punya daya saing yang sama kuatnya. Hanya kemudian kembali kepada seberapa adil kesempatan yang diberikan bagi anak – anak IPS untuk mengembangan kemampuan dan bakatnya.

Layaknya setiap manusia diciptakan dengan talenta dan kepribadian yang unik, anak – anak IPS memiliki karakter yang berbeda dengan anak – anak IPA yang cenderung tenang dan penuh perhatian, hal ini membuat mereka membutuhkan sistem pembelajaran yang berbeda pula dengan anak – anak IPA, Yaitu suatu sistem pembelajaran yang aktif dan komunikatif sesuai dengan jiwa sosial yang mereka miliki. Mereka butuh wadah yang mampu menjadi tempat mengekspresikan diri secara kreatif dan independen. Pertanyaannya kemudian mampukah intitusi sekolah menjadi wadah bagi anak – anak IPS yang juga merupakan calon – calon pemimpin bangsa.? Metode – metode pembelajaran seperti apa yang dapat menunjang pengembangan diri anak – anak IPS sehingga mampu membuktikan kepada masyarakat luas bahwa mereka adalah putra – putri bangsa yang penuh prestasi ? Disini saya mencoba untuk menyarankan beberapa metode pembelajaran yang saya harapkan mampu membuat pelajaran IPS menjadi suatu pelajaran yang lebih menarik, ketika suatu pelajaran menjadi menarik, maka minat siswa untuk mengikuti pelajaran akan meningkat, sehingga siswa diharapkan dapat menerima dan menyerap materi pelajaran dengan lebih efektif yang kemudian berdampak pada suatu pencapaian prestasi.

Tentunya anda dan saya setuju bahwa pelajaran ekonomi dan akuntansi adalah pelajaran – pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif. Mengapa saya katakan monoton dan tidak kreatif? Saya mencoba membayangkan ketika kita membuat suatu laporan laba rugi, sejak dulu sampai sekarang laporan laba rugi tidak pernah berisi hal lain selain pendapatan dan beban. Kemudian saya mencoba membayangkan jika anda berusaha kreatif di dalam membuat suatu laporan laba rugi, kemudian anda menambahkan gambar – gambar lucu di dalam laporan tersebut atau menambahkan warna pada tulisannya,tentu itu akan menjadi hal yang salah karena menyalahi aturan. Itulah mengapa saya menggambarkan kedua pelajaran tersebut sebagai pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif karena terikat dengan sebuah aturan baku yang mustahil untuk diubah dan dilanggar, sehingga terkadang berdampak pada ketidaktertarikan siswa terhadap kedua pelajaran tersebut. Tetapi bukan berarti kita tidak mampu mensiasati kedua pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif tersebut menjadi pelajaran yang lebih menarik dan sedikit lebih kreatif. Disini saya mencoba menawarkan sebuah metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk mengorganisir sebuah acara. Disini siswa belajar menerapkan prinsip – prinsip ekonomi dan akuntansi yang telah mereka dapatkan mulai dari proses perencanan acara, manajemen acara, sampai dengan pembuatan laporan pertanggungjawaban keuangan dari acara tersebut. Di sisi lain siswa juga belajar prinsip – prinsip kerjasama dalam mensukseskan sebuah acara.

Sejarah adalah ilmu yang terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, kalau kita sedikit bernostalgia ketika masih SD, guru kita mengajarkan bahwa yang menjadi dalang peristiwa gerakan 30 september 1965 adalah PKI, tapi kemudian seiring berjalannya dengan waktu muncul analisa – analisa baru yang justru menunjukkan bahwa belum tentu PKI yang menjadi dalang dari peristiwa G 30 S tersebut. Ini menunjukkan bahwa ilmu sejarah terus mengalami perkembangan. Karena itu sangatlah penting untuk kita terus memperbaharui dan menambah pengetahuan sejarah yang dimiliki. Untuk itu saya mencoba menyarankan metode pembelajaran sejarah dengan melakukan kunjungan ke tempat – tempat bersejarah, lewat kunjungan tersebut siswa dapat menyaksikan secara langsung berbagai peninggalan bersejarah yang bermanfaat menambah pengetahuan sejarah yang mungkin tidak mereka dapatkan di buku.

Geografi kerap kali tampil sebagai pelajaran yang paling menakutkan bagi sebagian besar siswa IPS. Tapi pernahkah kita berpikir, dibalik momok yang menakutkan tersebut sebenarnya apa tujuan kita belajar geografi? Tujuannya tak lain untuk memperkenalkan dan menanamkan rasa cinta terhadap alam. Untuk tujuan tersebut saya mencoba menawarkan sebuah metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan alam, seperti hiking, arung jeram, dan kampanye global warming sebagai wujud dari kecintaan terhadap alam.

Sosiologi adalah ilmu yang belajar mengenai segala hal tentang masyarakat. Untuk itu saya menyarankan sebuah metode pembelajaran dimana siswa ditempatkan ke rumah – rumah penduduk yang ada di pedalaman ( misalnya suku badui ) selama beberapa hari, disini siswa dapat belajar keluar dari kenyamanannya dan belajar bagaimana menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan masyarakat yang sifatnya heterogen dan beragam. Kegiatan sewacam ini juga dapat memberikan pengalaman hidup yang berharga yang diharapkan mampu mendewasakan siswa.

Tentunya anda pernah mendengar ungkapan yang bunyinya “ buku adalah jendela dunia “ yang artinya lewat buku kita dapat menyaksikan segala hal yang ada di dunia ini tanpa batas ruang maupun waktu. Untuk itu saya memilih kegiatan bedah buku sebagai metode pembelajaran yang saya tawarkan dalam pelajaran bahasa. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan siswa dapat terus menambah pengetahuan mereka, karena pengetahuan adalah kunci keberhasilan siswa IPS. Itulah sekuel metode pembelajaran yang dapat saya tawarkan bagi siswa program IPS, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh : Deirdre Tenawin