Tetapi tadi gwe berpikir sih gimana caranya mendayagunakan blog ini kembali, entah sebagai apapun.. At least gak cuma menuh-menuhin lemarinya om Google doang.. Dan pilihannya.. Ehm.. Gwe rasa lebih baik blog ini jadi tong sampah daripada jadi sampah di tong om Google? Hehe Apa yang akan gwe buang ke dalamnya? Ya.. Let's see.. Semoga yang gwe buang ke sini bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan menginspirasi pemulung-pemulung yang mengais-ngais tulisan di blog ini. :)
Tetapi tadi gwe berpikir sih gimana caranya mendayagunakan blog ini kembali, entah sebagai apapun.. At least gak cuma menuh-menuhin lemarinya om Google doang.. Dan pilihannya.. Ehm.. Gwe rasa lebih baik blog ini jadi tong sampah daripada jadi sampah di tong om Google? Hehe Apa yang akan gwe buang ke dalamnya? Ya.. Let's see.. Semoga yang gwe buang ke sini bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan menginspirasi pemulung-pemulung yang mengais-ngais tulisan di blog ini. :)
Posted in
Dalam rangka memperingati hari buruh nasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei, sekitar 100.000 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Indonesia melakukan long march dari bunderan Hotel Indonesia sampai Istana Negara, Minggu (1/5). Perjalanan mereka dimulai sekitar pukul 10.30 WIB setelah sebelumnya massa mendengarkan orasi dari pemimpin mereka dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Adapun, ormas-ormas yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini antara lain ; Indonesian Banking Union, KAJS (Komite Aksi Jaminan Sosial), FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia), SPBP,FSBI,FSB Kamiparho, FSPTS,dsb.
Posted in
Label:
anak jalanan,
jalanan,
tukang parkir
Posted in
Label:
bestfriend,
friend,
friendship
These days, it’s too easy for some of people to talk about friendship, whereas in the fact they didn’t really understand the true meaning of it. Say it, about the friendship word, you can see two words join together. These words are friend and ship. We can imagine our life as a sea, which is never calm eternally. Sometime sea becomes very calm, but sometime wind blows very hard, creating wave which is moving violently through the sea. As same as the sea which is never calm, our life also never flat. Happiness and sadness comes and goes one after another, fills our life with laugh and cry.
No one can walk through the sea of life in loneliness, even pirates who look so strong and brave have never crossed the sea alone. Jack Sparrow in the Pirates of the
Ditulis oleh : Deirdre Tenawin
Posted in
Label:
anak - anak,
globalisasi,
nilai
Globalisasi menawarkan sejuta pembaharuan yang banyak memberikan sumbangsih kemajuan bagi kehidupan manusia. Efeknya secara jelas terasa di sekitar kehidupan kita. Berapa banyak diantara kita di jaman yang serba instan ini masih menggunakan fasilitas
Dewasa ini dimana ruang dan waktu terasa tak seluas dulu, arus informasi begitu cepat dan mudah untuk diakses kapanpun dan dimanapun. Mata kita tidak lagi tertutup dari berbagai peristiwa yang terjadi di dunia Efek globalisasi ini jelas memberikan manfaat yang begitu besar bagi kemajuan suatu bangsa, terutama bagi kemajuan negara – negara berkembang seperti negara
Sadar atau tidak sadar salah satu hal berharga yang ikut tersapu oleh arus globalisasi yang menghanyutkan bangsa ini adalah, kepolosan dan keluguan putra putri generasi penerus bangsa. Mereka adalah harta yang kini mulai tercemar oleh polusi globalisasi zaman. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka konsumsi tidak lagi menjadi perhatian dan prioritas. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah reaksi bangsa ini yang hanya tersenyum cuek ketika “harta” mereka dicekoki racun – racun kehidupan oleh kaum kapitalis yang berlomba – lomba menimbun harta. Lihatlah tayangan – tayangan televisi yang dikonsumsi putra – putri bangsa ini, sinetron – sinetron yang mengajarkan kekerasan dan kebencian. Maupun lagu – lagu sekuler yang hampir seluruhnya memperkenalkan mereka pada keputusasaan cinta. Sungguh memprihatinkan ketika nilai – nilai kebaikan disamarkan dan digantikan dengan nilai – nilai kekerasan maupun permusuhan. Masih ingatkah anda sekalian pada kasus kekerasan yang menimpa seorang anak berumur 9 tahun bernama Ahmad Firdaus ? Ahmad adalah seorang siswa SDN Babakan Surabaya VII yang pingsan setelah dipukul teman sebayanya yang mempraktekan apa yang disaksikannya lewat tayangan “ Smackdown “ ( sebuah tayangan luar yang menampilkan permainan kekerasan yang kemudian ditayangkan di salah satu stasiun tv lokal ). (Warta
Pertanyaannya kemudian setelah semua yang terjadi, masihkan hati nurani kita memilih untuk tidur dan tak peduli dengan mereka yang diracuni ? Sumbangsih apa yang dapat kita berikan dalam memperbaiki dan mengembalikan kepolosan dan keluguan putra – putri bangsa yang telah ternodai ? Salah satu hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi perhatian terhadap tayangan – tayangan maupun musik – musik yang dikonsumsi anak, adik maupun anak – anak disekitar kita. Usahakan untuk memperkenalkan mereka pada tayangan – tayangan maupun musik – musik yang mendidik dan mengandung nilai kebaikan serta sesuai dengan porsi usianya. Perhatian dan kepedulian kita sekecil apapun sangat berharga dan berguna dalam menentukan nasib putra – putri bangsa ini di masa yang akan datang. Mari selamatkan “ anak – anak “ kita !
Posted in
Layaknya setiap manusia diciptakan dengan talenta dan kepribadian yang unik, anak – anak IPS memiliki karakter yang berbeda dengan anak – anak IPA yang cenderung tenang dan penuh perhatian, hal ini membuat mereka membutuhkan sistem pembelajaran yang berbeda pula dengan anak – anak IPA, Yaitu suatu sistem pembelajaran yang aktif dan komunikatif sesuai dengan jiwa sosial yang mereka miliki. Mereka butuh wadah yang mampu menjadi tempat mengekspresikan diri secara kreatif dan independen. Pertanyaannya kemudian mampukah intitusi sekolah menjadi wadah bagi anak – anak IPS yang juga merupakan calon – calon pemimpin bangsa.? Metode – metode pembelajaran seperti apa yang dapat menunjang pengembangan diri anak – anak IPS sehingga mampu membuktikan kepada masyarakat luas bahwa mereka adalah putra – putri bangsa yang penuh prestasi ? Disini saya mencoba untuk menyarankan beberapa metode pembelajaran yang saya harapkan mampu membuat pelajaran IPS menjadi suatu pelajaran yang lebih menarik, ketika suatu pelajaran menjadi menarik, maka minat siswa untuk mengikuti pelajaran akan meningkat, sehingga siswa diharapkan dapat menerima dan menyerap materi pelajaran dengan lebih efektif yang kemudian berdampak pada suatu pencapaian prestasi.
Tentunya anda dan saya setuju bahwa pelajaran ekonomi dan akuntansi adalah pelajaran – pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif. Mengapa saya katakan monoton dan tidak kreatif? Saya mencoba membayangkan ketika kita membuat suatu laporan laba rugi, sejak dulu sampai sekarang laporan laba rugi tidak pernah berisi hal lain selain pendapatan dan beban. Kemudian saya mencoba membayangkan jika anda berusaha kreatif di dalam membuat suatu laporan laba rugi, kemudian anda menambahkan gambar – gambar lucu di dalam laporan tersebut atau menambahkan warna pada tulisannya,tentu itu akan menjadi hal yang salah karena menyalahi aturan. Itulah mengapa saya menggambarkan kedua pelajaran tersebut sebagai pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif karena terikat dengan sebuah aturan baku yang mustahil untuk diubah dan dilanggar, sehingga terkadang berdampak pada ketidaktertarikan siswa terhadap kedua pelajaran tersebut. Tetapi bukan berarti kita tidak mampu mensiasati kedua pelajaran yang sifatnya monoton dan tidak kreatif tersebut menjadi pelajaran yang lebih menarik dan sedikit lebih kreatif. Disini saya mencoba menawarkan sebuah metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk mengorganisir sebuah acara. Disini siswa belajar menerapkan prinsip – prinsip ekonomi dan akuntansi yang telah mereka dapatkan mulai dari proses perencanan acara, manajemen acara, sampai dengan pembuatan laporan pertanggungjawaban keuangan dari acara tersebut. Di sisi lain siswa juga belajar prinsip – prinsip kerjasama dalam mensukseskan sebuah acara.
Sejarah adalah ilmu yang terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, kalau kita sedikit bernostalgia ketika masih SD, guru kita mengajarkan bahwa yang menjadi dalang peristiwa gerakan 30 september 1965 adalah PKI, tapi kemudian seiring berjalannya dengan waktu muncul analisa – analisa baru yang justru menunjukkan bahwa belum tentu PKI yang menjadi dalang dari peristiwa G 30 S tersebut. Ini menunjukkan bahwa ilmu sejarah terus mengalami perkembangan. Karena itu sangatlah penting untuk kita terus memperbaharui dan menambah pengetahuan sejarah yang dimiliki. Untuk itu saya mencoba menyarankan metode pembelajaran sejarah dengan melakukan kunjungan ke tempat – tempat bersejarah, lewat kunjungan tersebut siswa dapat menyaksikan secara langsung berbagai peninggalan bersejarah yang bermanfaat menambah pengetahuan sejarah yang mungkin tidak mereka dapatkan di buku.
Geografi kerap kali tampil sebagai pelajaran yang paling menakutkan bagi sebagian besar siswa IPS. Tapi pernahkah kita berpikir, dibalik momok yang menakutkan tersebut sebenarnya apa tujuan kita belajar geografi? Tujuannya tak lain untuk memperkenalkan dan menanamkan rasa cinta terhadap alam. Untuk tujuan tersebut saya mencoba menawarkan sebuah metode pembelajaran dimana siswa diajak untuk melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan alam, seperti hiking, arung jeram, dan kampanye global warming sebagai wujud dari kecintaan terhadap alam.
Sosiologi adalah ilmu yang belajar mengenai segala hal tentang masyarakat. Untuk itu saya menyarankan sebuah metode pembelajaran dimana siswa ditempatkan ke rumah – rumah penduduk yang ada di pedalaman ( misalnya suku badui ) selama beberapa hari, disini siswa dapat belajar keluar dari kenyamanannya dan belajar bagaimana menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan masyarakat yang sifatnya heterogen dan beragam. Kegiatan sewacam ini juga dapat memberikan pengalaman hidup yang berharga yang diharapkan mampu mendewasakan siswa.
Tentunya anda pernah mendengar ungkapan yang bunyinya “ buku adalah jendela dunia “ yang artinya lewat buku kita dapat menyaksikan segala hal yang ada di dunia ini tanpa batas ruang maupun waktu. Untuk itu saya memilih kegiatan bedah buku sebagai metode pembelajaran yang saya tawarkan dalam pelajaran bahasa. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan siswa dapat terus menambah pengetahuan mereka, karena pengetahuan adalah kunci keberhasilan siswa IPS. Itulah sekuel metode pembelajaran yang dapat saya tawarkan bagi siswa program IPS, semoga bermanfaat.
Posted in
Label:
Tanggung jawab
Berbicara mengenai tanggung jawab, ada baiknya jika kita menengok sejenak kitab Kejadian pasal 1. Kejadian pasal 1 berisi tentang masa penciptaan, dimana Allah selama 6 hari menciptakan bumi dan segala isinya serta manusia. Pada hari pertama sampai hari ke 5 Allah menciptakan bumi dan segala isinya, beserta tumbuhan dan hewan, dan lihat apa yang dikatakan Allah pada setiap kali ia mencipta, Allah selalu berkata “ Allah melihat semuanya itu baik “ ( Kejadian 1, ayat 10, 12, 18, 21, 25).
Tetapi pada hari ke 6 ketika Allah menciptakan manusia, lihat apa yang Allah katakan “ Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. ( Kejadian 1, ayat 31 ). Artinya kehadiran manusia melengkapi segala ciptaan-Nya, kehadiran manusia menjadikan segala ciptaan-Nya menjadi sempurna, menjadi sangat amat baik. Itulah tanggung jawab yang telah Allah taruh dalam diri manusia sejak penciptaan manusia yang paling pertama, dan yang sekarang juga menjadi tanggung jawab kita, yaitu menjadikan dunia tempat yang sangat amat baik, sesuai seperti apa yang Allah kehendaki. Bagaimana caranya menjadikan dunia tempat yang sangat amat baik? Jawabannya tergantung pada peran kita masing – masing di dalam kehidupan ini, dimana kita ditaruh Tuhan, disitulah kita harus menjalankan tanggung jawab kita untuk menjadikan apa yang ada di sekitar kita menjadi sangat amat baik.
Misalnya saya, saya adalah seorang pelajar. Sebagai pelajar, saya punya tanggung jawab untuk sekolah. Untuk apa sekolah? Jelas untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Mau tau dimana hubungannya? Di sekolah kita belajar banyak hal, bukan saja tentang pengetahuan, karena belajar harusnya tidak terbatas pada ilmu saja, tapi kita juga belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, belajar sopan santun, belajar disiplin, di dalam sekolah ada pembentukan karakter dan pola pikir yang mungkin kadang tidak kita sadari. Di sekolah kita “dicekoki” berbagai nilai – nilai kehidupan yang positif.
Menurut anda mengapa tingkat pendidikan menjadi salah satu ukuran status seseorang dalam masyarakat? tentu karena mereka yang terpelajar cenderung memiliki karakter dan pola pikir yang berbeda dengan mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Seorang dokter dan seorang preman pasar tentu memiliki respon dan solusi berbeda ketika dihadapkan pada sebuah masalah dalam hidupnya. Seorang dokter akan menyelesaikan masalahnya dengan sebuah pemikiran yang matang sebelum membuat sebuah tindakan, tapi seorang preman akan cenderung menyelesaikan masalahnya dengan emosi dan kekuatan, tanpa pikir panjang.
Jadi sekolah itu sangat bermanfaat
Satu hal kecil saja dengan sekolah, telah memberikan arti yang begitu besar bagi dunia ini, dengan pergi ke sekolah, belajar sungguh – sungguh walaupun begitu mengantuk ketika harus bangun di pagi hari saya telah membantu menjadikan dunia tempat yang lebih baik dan menuju sangat amat baik.
Lalu bagaimana tanggung jawab saya dalam kehidupan bermasyarakat ? Tentu tanggung jawabnya tetap sama menjadikan dunia tempat yang sangat amat baik. Caranya bagaimana ? Tegantung pada masyarakat mana saya ditempatkan, dalam keluarga, saya berusaha menjadi anak yang terbaik, yang sayang sama orang tua, berusaha membuat mereka bangga pada diri saya dan menghormati serta menghargai mereka sebagaimana seharusnya seorang anak pada orang tuanya.
Dalam kehidupan pertemanan saya, dalam lingkungan pergaulan saya dengan teman – teman saya, saya berusaha menjadi teman yang terbaik, berusaha menjadi teman di kala senang, sedih, susah dan gundah. Ketika teman butuh tempat curhat, saya berusaha menjadi pendengar yang baik dan seorang penasihat yang bijak namun menenangkan.
Di lingkungan tempat tinggal, dimana saya tidak tinggal sendirian tentunya, ada tetangga – tetangga di sekitar rumah saya, saya berusaha menjadi tetangga yang sebaik mungkin, misalnya ketika sadar hari sudah malam, dan waktunya tidur, saya tidak menyalakan musik keras – keras.
Dalam hubungan saya dengan kepala sekolah, guru serta staf – staf pengajar di sekolah, saya berusaha menghormati dan menghargai mereka, Penghormatan dan penghargaan saya terhadap mereka saya tunjukkan dengan mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh – sungguh ketika guru sedang mengajar dan menjelaskan materi pelajaran di depan kelas. Sadar akan begitu mulianya pengabdian para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, saya berusaha semaksimal mungkin agar pengorbanan yang telah mereka berikan tidak menjadi sia – sia, caranya adalah dengan belajar sungguh – sungguh dan memanfaatkan semaksimal mungkin ilmu yang telah diberikan oleh guru. Bukan saja ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini dengan baik. Selain menghargai guru, saya juga berusaha untuk menghargai para pegawai sekolah, caranya dengan membantu menjaga kebersihan kelas, dengan begitu saya sudah membantu meringankan pekerjaan para pegawai sekolah.
Bagaimana hal – hal yang saya lakukan mampu menjadikan dunia tempat yang lebih baik? Apapun yang saya lakukan, saya berusaha agar orang – orang disekitar saya dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap perkataan dan perbuatan saya, semakin banyak orang yang melihat kemuliaan Tuhan dan percaya pada Tuhan, pastinya dunia akan menjadi tempat yang sangat amat baik.
Tadi itu tentang saya dan bagaimana saya menjalakan tanggung jawab saya dalam kapasitas dan peran saya. Bagaimana dengan anda ? Sudahkah anda menjalankan tanggung jawab anda sebagai seorang manusia ciptaan-Nya ? Tanggung jawab untuk menjadikan dunia tempat yang sangat amat baik bukan cuma tanggung jawab saya, tapi itu tanggung jawab kita bersama sebagai manusia. Karena itu mari kita menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan-Nya pada kita dengan sebaik – baiknya. ^ ^
Posted in
Label:
pornografi,
seks
Istilah pornografi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, Porneia yang berarti cabul dan Grapho yang berarti aku menulis. Mungkin Anda menganggap masalah pornografi ini sebagai masalah pribadi. Namun coba Anda bayangkan bagaimana pengaruh serta akibat – akibat buruk yang dapat dihasilkan budaya pornografi terhadap perkembangan moral bangsa ini. Wanita merupakan subjek yang paling dirugikan, sebab mereka sering kali menjadi objek seks. Selain itu manusia diturunkan derajatnya menjadi sarana pemuas nafsu.
Pornografi sangat berbahaya bagi kesejahteraan masyarakat khususn, karena efek negatifnya yang merugikan banyak pihak. Saat ini budaya pornografi merajalela di kalangan remaja dan kaum muda. Tentunya kita ikut bertanggung jawab atas perkembangan mental generasi muda yang menjadi calon pemimpin bangsa di kemudian hari. Karena kelemahan di bidang moral adalah fakta utama yang membahayakan kemajuan masyarakat.
Ketika seseorang sedang menikmati sebuah karya yang mengandung pornografi, tanpa sadar ia telah dikuasai oleh hawa nafsu. Kesadarannya akan berkurang dan kemudian kepekaan etisnya akan dilemahkan. Konsentrasinya tidak lagi diarahkan kepada hal – hal rasional, melainkan emosional. Lalu apakah akibatnya kelak ? Sebenarnya tak lain daripada suatu bentuk “cuci otak”, dimana apa yang disajikan tayangan pornografi akan merangsang orang tersebut untuk melakukan sendiri / meniru apa yang telah dipertontonkan. seperti layaknya Narkoba, Pornografi menjerat penikmatnya kedalam ketergantungan yang berdampak negatif dan berbahaya.
Selain itu pornografi juga bertentangan dengan ajaran agama. Pornografi membuat manusia kehilangan nilai dan harga, sehingga ia kehilangan segala sesuatu yang memasyhurkan sang penciptanya. Karena itu marilah kita bersama – sama menyadari akan kerusakan moral yang terkandung dalam setiap aktivitas pornografi, dan berusaha melindungi moral, mental, dan rohani kita melalui persenjataan yang telah disediakan Allah dalam Kitab Suci. Kita tidak boleh mendiamkan ataupun menganggap masalah pornografi sebagai perkara yang remeh.
Posted in
Label:
avalokitesvara,
banten lama,
buddha,
vihara
Posted in
Label:
Sampah

Posted in
Label:
Bangsa,
Peranakan,
Tionghoa

Keturunan Cina di Indonesia, atau yang lebih sering disebut dengan kaum peranakan, sering kali mendapatkan perlakuan berbeda di dalam pergaulan masyarakat Indonesia yang didominasi oleh orang – orang asli Indonesia yang menyebut diri mereka pribumi. Padahal jika kita mencoba untuk menengok sejarah, dalam pidatonya, Bung Hatta mengatakan bahwa Republik Indonesia lahir ke dunia dengan pertumpahan darah dan air mata. Apa yang dicita – citakan Bangsa Indonesia tidak saja hanya ingin melihat negaranya menjadi Negara Hukum, tetapi juga sebagai Negara Peradaban. “ R.I. (S) yang berdasarkan demokrasi dan perikemanusiaan akan mengenal hanya satu macam warga negara, dengan tiada membeda – bedakan asal – usulnya” kata Bung Hatta selanjutnya. Lewat Pidato tersebut harusnya kita sadar bahwa baik peranakan maupun pribumi, keduanya adalah sama, sama – sama Bangsa Indonesia. Yang membedakan keduanya hanyalah soal fisik, mereka yang peranakan, dalam hal ini khususnya peranakan Tionghoa cenderung memiliki warna kulit yang lebih cerah dibandingkan pribumi, namun seiring berjalannya waktu, banyak peranakan Tionghoa yang telah membaur dengan masyarakat setempat hingga terkadang perbedaan fisik pun tak tampak lagi, bahkan hanya segelintir peranakan Tionghoa yang masih paham bahasa leluhur. Karena pada dasarnya kita adalah sama, walaupun berbeda soal fisik di dalam benak kita telah tertanam rasa cinta tanah air yang sama, baik peranakan Tionghoa maupun pribumi sama – sama mencita – citakan Indonesia yang maju.
Jika kita kembali menengok sejarah, kita akan tahu bahwa sebenarnya tidak sedikit peranakan Tionghoa yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini. Apakah anda pernah mendengar nama Lie Eng Hok ? Lie Eng Hok adalah seorang WNI keturunan Tionghoa yang pernah merasakan pahit-getirnya ditahan pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Papua selama 5 tahun ( 1927 – 1932 ), karena dituduh sebagai salah seorang “otak” pemberontakan 1926 di Banten. Lie semasa mudanya aktif sebagai wartawan Sin Po dan bersahabat dengan W.R. Supratman. Lewat sahabatnya tersebut ia banyak belajar tentang cita – cita kebangsaan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh pemuda keturunan Tionghoa waktu itu. Semasa hidupnya Lie banyak mengabdi bagi bangsa ini dengan menjadi mata – mata bagi teman – temannya sesama kaum pergerakan di Semarang. Dengan menjadi pedagang buku bekas, ia sering membeli buku dengan cara mendatangi rumah – rumah orang Belanda. Dari pekerjaan ini ia memperoleh banyak kenalan dan informasi, yang sering ia sebarkan kepada teman – temannya. Ia juga menjadi kurir orang – orang yang dicurigai Belanda di daerah Jawa Tengah yang hendak mengirim surat kepada sesama orang pergerakan di Semarang. Tak jarang pula ia mencarikan mereka penginapan yang aman bila sedang mengadakan rapat di Semarang. Sampai suatu saat peran Lie sebagai penghubung orang – orang pergerakan ketahuan Belanda. Ia kemudian ditangkap dan dibuang ke Papua, ke tempat bagi orang – orang yang tidak disukai Belanda.
Selain Lie Eng Hok, ada seorang gerilyawan yaitu Almarhum Ferry Sie King Lien yang telah menyumbang jiwa dan raga sebagai harta milik manusia yang paling berharga, demi bangsa ini. Almarhum Ferry Sie gugur dalam Perang Kemerdekaan II di Solo. Ferry adalah seorang gerilyawan kota yang bergerak malam – malam menembaki pos – pos Belanda, menempelkan plakat – plakat untuk memberi dorongan kepada penduduk Solo, menjaga keamanan / perlindungan kepada penduduk dari bahaya rampok dan lain – lain. Sampai suatu malam, ketika Ferry dan kawan – kawannya mengadakan kegiatan gerilya, mereka tertangkap basah oleh satu regu tentara Belanda, ia dan kawan – kawannya kemudian diberondong dengan tembakan dari panser. Jasad Ferry yang saat itu baru berusia 16 tahun dimakamkan keesokan harinya, dan setelah Tentara Belanda meninggalkan kota Solo, jenazah Ferry dan semua prajurit yang gugur dipindahkan ke Makam Pahlawan Taman Bahagia, Jurug, Solo dalam upacara kebesaran militer. Makam Ferry Sie merupakan satu – satunya makam peranakan Tionghoa di Makam Pahlawan Jurog, Solo.
Jika anda adalah seorang pencinta film, tentunya anda tidak asing lagi dengan nama Soe Hok Gie. Almarhum Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting mahasiswa. Ia termasuk salah satu tokoh kunci dalam sejarah munculnya Angkatan ’66, suatu angkatan dalam sejarah gerakan kaum terpelajar muda di Indonesia yang nyaris jadi legenda, sekaligus mitos. Soe Hok Gie pada masa itu banyak menulis dan membuat catatan – catatan di berbagai media masa. Tulisan – tulisannya yang tajam, menggigit dan seringkali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap pembacanya seperti dirobek – robek. Lewat tulisan – tulisannya dan kritik – kritik terhadap pemerintah, Soe Hok Gie berusaha untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Posted in
Label:
preman,
premanisme,
satpol pp
KATA preman kerap kali identik dengan sosok menyeramkan berwajah sangar dengan pakaian belel penuh robekan di beberapa tempat, serta lambang identitas berupa tato di sekujur tubuh yang tak pernah lepas dari imej seorang preman. Identitas berupa tato ular sampai tato naga serta hewan – hewan lain digunakan untuk menggambarkan kekuatan dan kekuasaan.
Tetapi gambaran tersebut tak selalu demikian. Tengok saja misalnya di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sana anda dapat menemukan beberapa preman berkemeja rapih, bercelana panjang dan bersepatu hitam mengkilat. Yang jelas mereka bukanlah preman sembarangan. Bajunya bukanlah baju sembarangan, tidak terdapat robekan, namun mampu menakuti masyarakat. Tato tidaklah lagi menjadi senjatanya untuk menunjukkan kekuasaan tetapi di tangannya diletakkan otoritas yang kekuatannya mampu menghancurkan keadilan.
Petugas Satpol PP, begitu sebutan bagi mereka. Apa yang mereka lakukan di Pasar Rebo ? Layaknya aparat penegak hukum, mereka seharusnya bertugas menciptakan keteraturan yang bertujuan menyejahterakan masyarakat namun yang terjadi justru sebaliknya, keberadaan “preman berkemeja” tersebut justru meresahkan masyarakat.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan bukan melaksanakan tanggung jawab sebagaimana semestinya, para “preman berkemeja” itu justru menghabiskan waktu kerjanya dengan menongkrong sambil minum kopi, mengobrol, membaca Koran, mendengarkan musik ataupun bermain handphone. Lalu apakah gunanya pemerintah mengalokasikan dana untuk menggaji para “preman berkemeja” tersebut ? Apakah tidak lebih bermanfaat jika dana yang dipakai untuk menggaji mereka digunakan untuk bantuan modal usaha bagi rakyat miskin?
Ali, seorang pedagang buah yang berjualan di sepanjang trotoar di Pasar Rebo mengatakan bahwa Para Petugas Satpol PP sering menarik pungutan liar kepada para supir angkot yang beroperasi di pasar Rebo. Para supir angkot yang beroperasi di Pasar Rebo wajib menyerahkan sejumlah uang agar mereka dapat memarkirkan mobilnya dengan tenang di pinggir jalan ketika sedang mencari penumpang. Besarnya kurang lebih RP 40.000,00 untuk angkot yang beroperasi pada pagi hari, Rp 60.000,00 untuk angkot yang beroperasi pada malam hari bahkan beberapa angkot dengan rute tertentu dikenakan Rp. 120.000,00. Padahal keberadaan mobil – mobil angkot yang memarkirkan angkotnya di pinggir jalan itu cukup meresahkan pengguna jalan lainnya karena menimbulkan kemacetan dan kekacauan lalu lintas.
Posted in
Di Indonesia, sejarah mencatat bahwa kasus ‘trafiking’ telah terjadi selama lebih dari 10 tahun. Tahun 1993 misalnya, 40 orang gadis Kalimantan Barat diperdagangkan ke Taiwan dengan modus perkawinan tradisional ( Sinar, 4 Oktober 1993 ). Tahun 1996 diwarnai dengan banyaknya anak Bali yang dijadikan obyek seksual dan pornografi oleh orang asing berkedok pekerja sosial. ( Sinar, 19 Oktober 1996 ). Dan masih banyak lagi kasus ‘trafiking’, yang jumlahnya melampaui naluri kemanusiaan sehingga tak dapat dipaparkan satu per satu.
Batasan ‘trafiking’
Perserikatan Bangsa–Bangsa ( PBB ) mendefinisikan ‘trafiking’ sebagai perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, atau memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi ( Protokol PBB tahun 2000 untuk mencegah, menanggulangi dan menghukum ‘Trafiking’ terhadap Manusia, khususnya perempuan dan anak-anak; Suplemen Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Batas Negara ).
Korban ‘trafiking’
Dalam kasus ‘trafiking’, korban adalah objek utama yang seharusnya menjadi sasaran perhatian agar dapat memahami, menuntaskan dan memberantas ‘trafiking’. Dengan lebih memberi perhatian dan mengenal korban, siapa mereka, mengapa mereka begitu dekat dan mudah mengalami ‘trafiking’ dan apakah yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka, niscaya perlahan tapi pasti kita mampu mengurangi kasus ‘trafiking’ lewat peminimalan faktor–faktor penyebabnya..
Siapa korban ‘trafiking’ ?
Korban ‘trafiking’ umumnya adalah masyarakat dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah. Tuntutan untuk bertahan hidup, melunasi hutang–hutang yang semakin membengkak serta guna memenuhi segala kebutuhannya mendorong mereka berpendidikan kurang cenderung mencari pekerjaan yang dianggapnya mudah, tidak menuntut ketrampilan yang tinggi namun menghasilkan imbalan yang besar. Akhirnya pilihan menjadi TKI / TKW di luar negeri dengan iming - iming upah yang besar menjadi impian tersendiri, walau impian mereka justru dimanfaatkan oknum–oknum tertentu untuk memperoleh keuntungan pribadi melalui tindak ‘trafiking’ yang mereka lakukan.
Walaupun begitu tidak semua kasus ‘trafiking’ terjadi karena latar belakang ekonomi yang rendah, mereka yang menjadi korban ‘trafiking’ juga adalah mereka yang lemah dan tak berdaya. Wanita dan anak–anak adalah yang dekat dengan keadaan ini. Sering kali kita mendapati kasus ‘trafiking’ wanita dan anak – anak ( bahkan bayi ) diculik, diperkosa, dijual atau dieksploitasi sedemikian rupa, baik dijadikan pekerja seks maupun dipaksa bekerja sebagai pengemis, pengamen, dsb. tanpa menerima upah selayaknya. Mereka dijadikan mesin penghasil uang.
Apa faktor penyebab terjadinya ‘trafiking’ ?
Tidak ada faktor tunggal yang mampu mewakili seluruh sebab terjadinya ‘trafiking’ pada manusia. Hal ini dikarenakan banyaknya kepentingan yang membentuk dan menyebabkan terjadinya kasus–kasus ‘trafiking’ yang ada selama ini. Namun secara keseluruhan, termasuk didalamnya ; faktor kemiskinan, faktor keinginan menjadi kaya dengan jalan yang mudah dan cepat, tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah, kurangnya wawasan mengenai ‘trafiking’, dan lemahnya kinerja penegakkan hukum.
Kemiskinan mendorong orang berusaha menyelesaikan persoalan–persoalan perekonomiannya, misalnya melunasi hutang–hutang yang semakin membengkak dan memenuhi kebutuhan yang mendesak. Hal tersebut mendorong mereka mau melakukan pekerjaan apa saja demi menyelesaikan problem perekonomiannya yang sudah sangat kompleks, sehingga mengakibatkan terbuka kesempatan terjadinya ‘trafiking’.
Tuntutan globalisasi zaman mendorong setiap orang berlomba–lomba meningkatkan taraf hidup mereka setinggi mungkin. Semua orang ingin cepat kaya dengan jalan semudah dan secepat mungkin. Hal ini mendorong segilintir orang bermigrasi ke negara lain untuk mencari pekerjaan dengan iming-iming gaji yang besar. Orang–orang tersebut rentan menjadi korban ‘trafiking’.
Tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah membuat seseorang mengalami keterbatasan dalam kesempatan kerja. Hal ini mendorong orang tersebut mencari pekerjaan yang mudah dan tidak menuntut tingkat pendidikan maupun ketrampilan yang tinggi. Orang –orang tersebut menjadi rentan menjadi korban ‘trafiking’ karena kebiasaan mereka yang bermigrasi kesana–kemari guna mencari pekerjaan yang menjanjikan bagi mereka.
Kurangnya wawasan masyarakat mengenai ‘trafiking’ membuat masyarakat umumnya kurang memberi perhatian pada hal tersebut. Masyarakat menjadi kurang peka terhadap kasus–kasus ‘trafiking’ yang terjadi di sekitarnya sehingga cenderung tidak sadar dan waspada akan bahaya ‘trafiking’ yang mengintainya karena mereka tidak tahu bagaimana cara pelaku trafiking menipu dan menjerat korbannya.
Negara Indonesia memiliki konstitusi hukum yang dengan jelas mengatur perlindungan bagi masyarakatnya dari tindak ‘trafiking’. Kita punya UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO), KUHP (Pasal 297), Keppres No 88 Tahun 2002 RAN Anti ‘Trafiking’, Perda Sulawesi Utara No.1 tahun 2004 dan Perda Sumatera Utara No.6 tahun 2004. Namun sangat disayangkan penerapan aturan–aturan hukum yang telah dibuat dengan tujuan yang baik dan tegas tidak dijalankan dengan baik dan tegas. Hal ini membuat tindak ‘trafiking’ terus bertumbuh secara merajalela tanpa mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum.
Dampak ‘trafiking’
Selain akan mengalami luka fisik dan penyakit–penyakit akibat tindakan semena–mena yang didapatkannya, korban ‘trafiking’ juga dapat mengalami ganguan psikologis karena tidak kuasa menerima keadaannya. Tak jarang para korban tersebut menemui diri mereka terkucilkan dan terasing dari komunitasnya akibat perlakuan yang mereka terima yang telah menodahi harga diri dan martabatnya. Bagi korban ‘trafiking’ yang masih tergolong anak–anak akan mengalami trauma permanen yang menghambat pertumbuhannya.
Perlu kita sadari bahwa tentunya setiap individu mendambakan masa depan yang cerah, latar belakang pendidikan yang tinggi serta kehidupan yang makmur. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang mereka impikan karena tidak memiliki daya untuk meraih impiannya. Misalnya saja faktor kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan seseorang tidak dapat memperoleh pendidikan karena mahalnya biaya pendidikan itu. Pada akhirnya mereka terpaksa untuk mencari solusi lain untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dalam hidupnya.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan adalah dengan memperbanyak sektor industri guna menyerap tenaga kerja, khususnya tenaga kerja menengah. Tenaga kerja menengah yang diharapkan adalah tenaga kerja yang produktif dan profesional. Untuk itu, diperlukan suatu sistem pendidikan yang siap mendidik generasi muda menjadi tenaga yang profesional. Dalam tataran realisasi di lapangan hal itu tidak mudah untuk dilaksanakan tanpa ada dukungan dari pemerintah dan swasta.
Faktor keamanan dan kestabilan politik di Negara ini juga harus menjadi perhatian serius kita semua khususnya pemerintah, karena hal tersebut akan membawa dampak positif bagi perekonomian bangsa ini. Keamanan dan kestabilan politik akan menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Negara ini. sehingga tumbuh sektor–sektor industri baru yang kemudian berdampak pada terbukanya kesempatan kerja yang luas yang mampu menampung tenaga kerja di Indonesia. Jika tersedia banyak kesempatan kerja yang menjanjikan di Negara ini, maka masyarakat tidak perlu berbondong–bondong mencari pekerjaan di negri lain.
Peran pemerintah dan aparat penegak hukum juga sangat dibutuhkan dalam menindak para pelaku ‘trafiking’. Hukuman yang adil dan tegas yang diberikan kepada para pelaku ‘trafiking’ diharapkan dapat memberikan efek jera, sehingga kejahatan ‘trafiking’ dapat diminimalisir.
Sosialisasi mengenai ancaman ‘trafiking’ juga harus lebih gencar diberikan kepada masyarakat, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah dan masyarakat yang tinggal di pedalaman daerah, yang sering kali kurang informasi, sehingga rentan menjadi korban penipuan. Dengan sosialisasi tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan sadar akan bahaya ‘trafiking’ di sekitarnya.
Solusi lainnya adalah dengan meningkatkan ekspor komoditi yang berkaitan dengan budaya bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah batik. Dengan lebih gencar mengekspor batik dan hasil budaya Indonesia, bukan hanya akan meningkatkan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional, tetapi juga akan membuka peluang kerja bagi masyarakat Indonesia.
Tawaran solusi–solusi di atas bukanlah mustahil untuk direalisasikan mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki semua unsur untuk mencapai solusi – solusi tersebut. Tentunya kesuksesan dalam menyelesaikan permasalahan trafiking tidak dapat tercapai tanpa adanya peran semua pihak, baik masyarakat, pemerintah, swasta, maupun kaum industrial.
Ditulis oleh : Deirdre Tenawin











